Apakah Batik Lasem Sudah Dipalsukan?

Walaupun dianggap klasik dan tak lekang zaman, ternyata sebuah batik tetap bagian dari mode yang terpengaruh oleh minat pasar.

Batik lasem yang dianggap sebagai salah satu simbol batik peranakan Tionghoa sendiri juga telah mengalami perubahan hingga menjadi yang sekarang.

Dalam acara konferensi pers Kondangan Peranakan Tionghoa Indonesia 2016, dewan pakar Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) William Kwan, menjelaskan penyebab perubahan ini.

William menjelaskan bahwa walaupun pada awalnya mayoritas pengguna batik lasem adalah wanita peranakan Tionghoa, tetapi setelah kemerdekaan Indonesia, para wanita peranakan Tionghoa mulai meninggalkan kebaya encim untuk gaya busana Barat.

Oleh karena itu, pasar batik lasem pun berpindah ke siapa saja yang mau memakai batik lasem sehingga motif dan warnanya mengalami penyesuaian.

“Jadi apa yang disebut dengan batik lasem saat ini, terus terang saja, sangat berbeda dengan apa yang kita tahu batik lasem di masa sebelum perang dunia II,” ucapnya.

Menunjuk pada pakaian yang saat itu sedang dikenakannya, William menjelaskan ciri-ciri batik lasem klasik, yaitu latar yang polos dan tidak ada isen-isen. Namun, batik lasem yang sekarang memiliki isen-isen yang sangat rapat.

“Industri batik lasem ini terus berkembang sampai pada tahun 1970 di mana pengusaha batik di kota tersebut berjumlah 120 orang. Namun, di tahun 2012, angka tersebut merosot hingga 18, di mana hanya empat yang keluarga Tionghoa,” tuturnya.

Walaupun demografinya telah berubah, William berkata bahwa kecintaan warga lasem terhadap batik masih belum pudar.

Bahkan, batik tidak hanya dianggap sebagai produk seni budaya saja, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan keluarga-keluarga petani di sekitar Lasem.

0 Response to "Apakah Batik Lasem Sudah Dipalsukan?"

Poskan Komentar